Tidak ada cinta abadi sehebat cinta ibu kepada anaknya! Kenapa? Karena Tuhan sudah menciptakan sesosok malaikat tanpa sayap yang berhati lembut dan bertutur kata halus, yang rela membawa kita selama 9 bulan dalam rahimnya, yang merelakan bentuk badannya berubah demi kita didalamnya, rela tiap pagi terkena morning sickness, rela pinggangnya sakit karena membawa kita kemana-mana selama 9 bulan itu, dan rela mempertaruhkan nyawa demi lahirnya sesosok makhluk mungil tanpa dosa. Many more reasons and you can't mention it one by one!
Mungkin itulah yang terpikirkan oleh kalian tentang seorang ibu, tetapi tidak bagiku. Aku tidak mengenal kata "ibu". Aku tidak tahu makhluk seperti apa "ibu" itu. Apakah "ibu" itu benar-benar layaknya malaikat seperti yang dibilang? Aku tidak paham karena sejauh ini yang kupahami dan kumengerti adalah kata "ayah" belaka.
Siapa ayah? Aku kujelaskan kata "ayah" dalam kamusku! Ayah adalah sesosok laki-laki tua yang selalu berada disampingku untuk menjagaku dari gigitan nyamuk disetiap malam tidurku. Ayah yang pergi dengan gerobak baunya subuh-subuh sekali karena takut didahului terbitnya mentari. Ayah tidak berambut panjang layaknya "ibu" yang kau ceritakan, tetapi ayahku senantiasa memakai topi kumal putih kesayangannya demi melindunginya dari panasnya sang surya yang membakar ubun-ubunnya.
Dari pagi hingga menjelang malam, ayah tidak bisa menjagaku seperti yang ia lakukan tiap malam. Namun, ia akan pulang dengan bau khasnya dan badan penuh keringat. Tidak apa-apa, bagiku kehadiran ayah dengan bau keringatnya bagaikan parfum untuk rumah mungilku. Ups... rumahku tidak seperti rumah-rumah yang ada dalam koran yang kudapat di pinggir jalan. Rumahku hanyalah rumah rapuh yang terbuat dari anyaman bambu. Akan sangat mengkhawatirkan bila hujan deras melanda karena ketika airnya akan merembes masuk ke dalam. Aku benci hujan karena itu! Tapi ayahku mengatakan bahwa hujan adalah rezeki bagi kita dan waktu yang mujarab untuk memanjatkan doa. Oleh karena itu, disetiap turunnya hujan aku selalu berdoa tentang sesuatu yang aku inginkan.
Dan yang paling kusukai adalah ketika malam tiba, ayah akan pulang dengan 2 bungkus nasi yang akan kami lahap dengan rakus bersama-sama sebelum tidur. Setelah itu kami mencuci kedua tangan dan kaki serta wajah kami dengan air hujan yang kami tampung. Ayah akan bersenandung hingga ku terlelap dan menajagaku dari gigitan nyamuk.
Ayah tak pernah bercerita tentang sesosok "ibu". Dan ketika aku menanyakan tentang sosok "ibu" padanya, mata ayah akan berkaca-kaca sehingga aku tak pernah menanyakan tentang "ibu" lagi padanya. Hingga pada suatu malam ayah tak kunjung pulang. Aku setia menunggu ayah di depan rumah hingga larut malam. Apa ayah baik-baik saja? Apa ayah tersesat? Entahlah... Aku tidak tau apa yang terjadi pada ayah. Hingga seminggu kemudian yang kutahu dari cerita orang bahwa ada sesosok lelaki tua dengan topi putihnya ditemukan mengambang di sungai. Aku berlari ke lokasi tersebut sekuat tenaga. Dengan yakin aku melihat topi putih kumal kepunyaan ayahku. Aku menerobos pembatas kuning polisi dan merangkul ayahku yang sudah berbau busuk dan tak dapat dilihat lagi bentuknya. Ada luka tusuk pada perutnya, entahlah siapa yang tega menusuk orang tua yang bahkan tak punya harta untuk dipertaruhkan.
Begitulah, sekarang aku yang melanjutkan tugas ayahku, berangkat dengan gerobak baunya sebelum mentari terbit. Pulang dengan sebungkus nasi dan rela digigit nyamu tiap malam karena tak ada lagi yang melindungiku. Kadang kuberpikir, apakah ini jawaban dari doaku setiap hujan? Agar ayahku tidak perlu lagi mendorong gerobak sampahnya untuk bahagia?