Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Aku hanya mengerti kata "Ayah"

0 comments
Tidak ada cinta abadi sehebat cinta ibu kepada anaknya! Kenapa? Karena Tuhan sudah menciptakan sesosok malaikat tanpa sayap yang berhati lembut dan bertutur kata halus, yang rela membawa kita selama 9 bulan dalam rahimnya, yang merelakan bentuk badannya berubah demi kita didalamnya, rela tiap pagi terkena morning sickness, rela pinggangnya sakit karena membawa kita kemana-mana selama 9 bulan itu, dan rela mempertaruhkan nyawa demi lahirnya sesosok makhluk mungil tanpa dosa. Many more reasons and you can't mention it one by one! 

Mungkin itulah yang terpikirkan oleh kalian tentang seorang ibu, tetapi tidak bagiku. Aku tidak mengenal kata "ibu". Aku tidak tahu makhluk seperti apa "ibu" itu. Apakah "ibu" itu benar-benar layaknya malaikat seperti yang dibilang? Aku tidak paham karena sejauh ini yang kupahami dan kumengerti adalah kata "ayah" belaka. 

Siapa ayah? Aku kujelaskan kata "ayah" dalam kamusku! Ayah adalah sesosok laki-laki tua yang selalu berada disampingku untuk menjagaku dari gigitan nyamuk disetiap malam tidurku. Ayah yang pergi dengan gerobak baunya subuh-subuh sekali karena takut didahului terbitnya mentari. Ayah tidak berambut panjang layaknya "ibu" yang kau ceritakan, tetapi ayahku senantiasa memakai topi kumal putih kesayangannya demi melindunginya dari panasnya sang surya yang membakar ubun-ubunnya. 

Dari pagi hingga menjelang malam, ayah tidak bisa menjagaku seperti yang ia lakukan tiap malam. Namun, ia akan pulang dengan bau khasnya dan badan penuh keringat. Tidak apa-apa, bagiku kehadiran ayah dengan bau keringatnya bagaikan parfum untuk rumah mungilku. Ups... rumahku tidak seperti rumah-rumah yang ada dalam koran yang kudapat di pinggir jalan. Rumahku hanyalah rumah rapuh yang terbuat dari anyaman bambu. Akan sangat mengkhawatirkan bila hujan deras melanda karena ketika airnya akan merembes masuk ke dalam. Aku benci hujan karena itu! Tapi ayahku mengatakan bahwa hujan adalah rezeki bagi kita dan waktu yang mujarab untuk memanjatkan doa. Oleh karena itu, disetiap turunnya hujan aku selalu berdoa tentang sesuatu yang aku inginkan.

Dan yang paling kusukai adalah ketika malam tiba, ayah akan pulang dengan 2 bungkus nasi yang akan kami lahap dengan rakus bersama-sama sebelum tidur. Setelah itu kami mencuci kedua tangan dan kaki serta wajah kami dengan air hujan yang kami tampung. Ayah akan bersenandung hingga ku terlelap dan menajagaku dari gigitan nyamuk. 

Ayah tak pernah bercerita tentang sesosok "ibu". Dan ketika aku menanyakan tentang sosok "ibu" padanya, mata ayah akan berkaca-kaca sehingga aku tak pernah menanyakan tentang "ibu" lagi padanya. Hingga pada suatu malam ayah tak kunjung pulang. Aku setia menunggu ayah di depan rumah hingga larut malam. Apa ayah baik-baik saja? Apa ayah tersesat? Entahlah... Aku tidak tau apa yang terjadi pada ayah. Hingga seminggu kemudian yang kutahu dari cerita orang bahwa ada sesosok lelaki tua dengan topi putihnya ditemukan mengambang di sungai. Aku berlari ke lokasi tersebut sekuat tenaga. Dengan yakin aku melihat topi putih kumal kepunyaan ayahku. Aku menerobos pembatas kuning polisi dan merangkul ayahku yang sudah berbau busuk dan tak dapat dilihat lagi bentuknya. Ada luka tusuk pada perutnya, entahlah siapa yang tega menusuk orang tua yang bahkan tak punya harta untuk dipertaruhkan. 

Begitulah, sekarang aku yang melanjutkan tugas ayahku, berangkat dengan gerobak baunya sebelum mentari terbit. Pulang dengan sebungkus nasi dan rela digigit nyamu tiap malam karena tak ada lagi yang melindungiku. Kadang kuberpikir, apakah ini jawaban dari doaku setiap hujan? Agar ayahku tidak perlu lagi mendorong gerobak sampahnya untuk bahagia?


"Lebih jauh aja ya"

0 comments
Hari-hariku bahagia, semakin banyak cerita-cerita yang kami tukar, tentang pengalaman, kabar gembira, dan perhatian kecil yang kami berikan satu sama lain. Kuterperosok semakin dalam oleh pesonanya. Berulang kali kucoba meyakinkan diri untuk berhenti saja. "Tidak! Tidak bisa." Jawabku dalam hati. 

Ditengah-tengah kesibukanku belajar untuk ulangan semester besok, kurasakan getaran dari sakuku. Bibirku mengembang membentuk senyuman kecil. Siapa lagi kalau bukan dia? Basa basi ringan, seperti biasa. Sungguh lucu, seringkali dia meminta izin untuk meneleponku. Entahlah, terasa aneh sekali selalu meminta izin sebelum menelepon seseorang. Bahkan kuingat sebelumnya, dia dengan terus terang meminta izin untuk mendekatiku. 

"Besok mau kuantar pulang?" tawarnya padaku. Ingin sekali kuteriakan kata "Ya!" padanya segera mungkin. Agar dia tahu betapa senangnya aku dengan tawarannya.

"Gak ngerepotin nih? Kan rumahmu jauh. Lagian kamu pulang lebih pagi kan?" Tanyaku, merasa tak enak dengan tawarannya. 

"Enggak ngerepotin kok, mau ya?" 

"Boleh deh kalo gitu." 

Seperti biasa, dia berhenti di depanku dengan cengiran khasnya ketika membuka kaca helm. Sepanjang perjalanan bisa dibilang kami gak kehabisan topik pembicaraan. Obrolan kami mengalir saja, mungkin karena dia memang orangnya supel dan easygoing.

"Eh ini lewat mana?" tanyanya padaku.

"Belok kanan atau kiri bisa semua kok."

"Yang lebih deket lewat mana?"

"Belok kanan aja tuh lebih deket."

"Oh oke deh." Jawabnya sambil berbelok ke kiri.

"Lho kok lewat sini?" tanyaku bingung.

"Iya, lewat yang lebih jauh aja ya hehehe" jawabnya sambil nyengir.

"Dasar kamu!" Mau tak mau aku pun ikut tertawa. 

Satu hal yang kusadari saat itu. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan caranya. 


Teh botol

0 comments
Dia yang awalnya ingin kuabaikan, dia yang awalnya bukanlah yang kuinginkan, dia yang awalnya menggangguku...

Kuakui dia cukup gigih dalam mendekatiku, kegigihannya itu yang membuatku terkesan dan membuatku penasaran tentang dirinya. Berawal dari sms dan kejutan kecil setelah pentas yel-yel. 

Tak ada maksud tertentu dari reaksiku yang membalas smsnya. Awalnya hal itu semata-mata untuk menjaga kesopananku padanya yang berada 2 tingkat diatasku. 

Akan kuceritakan kejutannya, tepat setelah aku pentas yel-yel. Capek, terengah-engah, sumuk. Lagi pula saat tampil sengaja kulepas kacamata unguku. Otomatis pandanganku memburam. Setelah turun panggung dan merasa cukup puas dengan penampilan yel-yel kelasku. Gerombolan kelasku kembali menuju kelas sedangkan aku sengaja kembali agak akhir karena kepalaku pusing akibat efek melepas kacamata unguku agak lama. Ketika dibelakang panggung ada yang memanggilku. Tak terduga. Aku sempat berpikir, oh ini mungkin yang semalam dia katakan bahwa dia akan memberiku sesuatu. Kulihat dia masih mengenakan seragam sekolah. Memanglah kelas tingkat akhir tidak mengikuti lomba yel-yel karena sudah harus fokus belajar.

"Dek, ini buat kamu." Ujarnya sambil menyerahkan sebotol minuman padaku. How sweet!

Dengan agak malu-malu aku menerimanya setelah berbasa-basi menolaknya dengan halus karena merepotkan dia. Yah... hanya bualan belaka. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih untuk perhatian kecilnya.

Woops! Aku tersenyum2 melihat minuman yang diberikannya. Teh botol dengan merk yang sama seperti panggilanku. Sedikit membuatku berbunga-bunga. Akan kuingat momen berharga ini. Berlebihan memang, tapi tak ada salahnya.

Ibarat kucing diberi ikan, sumringah, senang, dan salah tingkah. Aku berpikir, andai sebelum tampil kubertemu dengannya dapat dipastikan aku lebih energik di panggung.

Ah, ada apa sih denganku? Tak biasanya kululuh dengan perhatian kecil seorang lelaki. Semenjak itulah kumulai memperhatikannya.

Kacamata Ungu

0 comments
Kacamata ungu yang kukenakan nampaknya sangat cocok bertengger di hidungku yang kecil ini. Parasku tidak begitu menarik. Apa sih istimewanya gadis pendek dengan pipi tembam yang hampir melahap habis hidung mungilnya? Tidak ada. Sebagai siswa baru salah satu SMA terfavorit di kotaku yang tentram ini, aku cenderung tipikal cewek cupu ehm... apa sih istilahnya? Nerd? Freak? 

Rambut potongan papak, poni miring, dan berkecamata, sungguh jauh dari kata "modis". Aku cukup bersyukur dengan selesainya penyiksaan yang telah kujalani hampir genap 3 tahun. Dimana kawat besi menempel didalam rongga mulutku. Menarik kuat gigiku yang rasanya rahangku pun ikut tertarik. Ugh... Aku benci bila harus mengingat-ingat bagaimana rasanya sering sariawan akibat itu. 

Oh ya, kacamata ungu yang kukenakan sekarang belum lama kumiliki. Hanya berselang seminggu setelah masa orientasi siswa yang kulalui. Aku tampak lebih percaya diri dengan kacamata baruku ini. Menurutku, kacamata ini membuat wajahku lebih menarik. 

"Ungu... ungu... Berikan aku pesonamu.. Bawakan aku keajaibanmu..."  

Kata-kata itu kuucapkan didepan cermin sebelum kuberangkat sekolah. Sssstttt..... Ini rahasiaku agar lebih percaya diri dengan menyugesti diri sendiri. Aku percaya dengan begitu keajaiban akan terjadi padaku dengan berbagai cara.

Btw, karenanya aku jadi makin menyukai warna ungu. Aku memandang warna ungu sebagai warna yang anggun, bermartabat, dan elok. Tapi, ungu tetap tidak bisa mengalahkan warna merah sebagai warna favoritku. Merah melambangkan gairah dan semangat yang selalu berkorbar. 

Aku ingin menceritakan tentang keajaiban yang dibawa kacamata ungu ini padaku. Kacamata ungu ini mendekatkanku pada sosok lelaki yang berbeda kepribadian denganku. Walaupun awalnya kucoba untuk mengabaikannya karena ada desas-desus rumor tidak enak tentang dirinya, aku pun kalah. Tak bisa kupungkiri bahwa dirinya memang terlalu menarik untuk diabaikan. Entah itu karena bakatnya sebagai sosok cassanova atau diriku yang terlalu lemah atas manisnya ucapan yang sering terlontar dari bibirnya. 

Kacamata ungu ini yang memberikanku beberapa kisah menarik dalam kehidupan asmaraku. Kisah-kisah manis berkedok kopi hitam yang pahit. Dari sini awal ceritaku.. Dimulai dari kacamata unguku...




 

Casual Affair Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos