Dia yang awalnya ingin kuabaikan, dia yang awalnya bukanlah yang kuinginkan, dia yang awalnya menggangguku...
Kuakui dia cukup gigih dalam mendekatiku, kegigihannya itu yang membuatku terkesan dan membuatku penasaran tentang dirinya. Berawal dari sms dan kejutan kecil setelah pentas yel-yel.
Tak ada maksud tertentu dari reaksiku yang membalas smsnya. Awalnya hal itu semata-mata untuk menjaga kesopananku padanya yang berada 2 tingkat diatasku.
Akan kuceritakan kejutannya, tepat setelah aku pentas yel-yel. Capek, terengah-engah, sumuk. Lagi pula saat tampil sengaja kulepas kacamata unguku. Otomatis pandanganku memburam. Setelah turun panggung dan merasa cukup puas dengan penampilan yel-yel kelasku. Gerombolan kelasku kembali menuju kelas sedangkan aku sengaja kembali agak akhir karena kepalaku pusing akibat efek melepas kacamata unguku agak lama. Ketika dibelakang panggung ada yang memanggilku. Tak terduga. Aku sempat berpikir, oh ini mungkin yang semalam dia katakan bahwa dia akan memberiku sesuatu. Kulihat dia masih mengenakan seragam sekolah. Memanglah kelas tingkat akhir tidak mengikuti lomba yel-yel karena sudah harus fokus belajar.
"Dek, ini buat kamu." Ujarnya sambil menyerahkan sebotol minuman padaku. How sweet!
Dengan agak malu-malu aku menerimanya setelah berbasa-basi menolaknya dengan halus karena merepotkan dia. Yah... hanya bualan belaka. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih untuk perhatian kecilnya.
Woops! Aku tersenyum2 melihat minuman yang diberikannya. Teh botol dengan merk yang sama seperti panggilanku. Sedikit membuatku berbunga-bunga. Akan kuingat momen berharga ini. Berlebihan memang, tapi tak ada salahnya.
Ibarat kucing diberi ikan, sumringah, senang, dan salah tingkah. Aku berpikir, andai sebelum tampil kubertemu dengannya dapat dipastikan aku lebih energik di panggung.
Ah, ada apa sih denganku? Tak biasanya kululuh dengan perhatian kecil seorang lelaki. Semenjak itulah kumulai memperhatikannya.
"Dek, ini buat kamu." Ujarnya sambil menyerahkan sebotol minuman padaku. How sweet!
Dengan agak malu-malu aku menerimanya setelah berbasa-basi menolaknya dengan halus karena merepotkan dia. Yah... hanya bualan belaka. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih untuk perhatian kecilnya.
Woops! Aku tersenyum2 melihat minuman yang diberikannya. Teh botol dengan merk yang sama seperti panggilanku. Sedikit membuatku berbunga-bunga. Akan kuingat momen berharga ini. Berlebihan memang, tapi tak ada salahnya.
Ibarat kucing diberi ikan, sumringah, senang, dan salah tingkah. Aku berpikir, andai sebelum tampil kubertemu dengannya dapat dipastikan aku lebih energik di panggung.
Ah, ada apa sih denganku? Tak biasanya kululuh dengan perhatian kecil seorang lelaki. Semenjak itulah kumulai memperhatikannya.
0 comments:
Post a Comment