Teh botol

0 comments
Dia yang awalnya ingin kuabaikan, dia yang awalnya bukanlah yang kuinginkan, dia yang awalnya menggangguku...

Kuakui dia cukup gigih dalam mendekatiku, kegigihannya itu yang membuatku terkesan dan membuatku penasaran tentang dirinya. Berawal dari sms dan kejutan kecil setelah pentas yel-yel. 

Tak ada maksud tertentu dari reaksiku yang membalas smsnya. Awalnya hal itu semata-mata untuk menjaga kesopananku padanya yang berada 2 tingkat diatasku. 

Akan kuceritakan kejutannya, tepat setelah aku pentas yel-yel. Capek, terengah-engah, sumuk. Lagi pula saat tampil sengaja kulepas kacamata unguku. Otomatis pandanganku memburam. Setelah turun panggung dan merasa cukup puas dengan penampilan yel-yel kelasku. Gerombolan kelasku kembali menuju kelas sedangkan aku sengaja kembali agak akhir karena kepalaku pusing akibat efek melepas kacamata unguku agak lama. Ketika dibelakang panggung ada yang memanggilku. Tak terduga. Aku sempat berpikir, oh ini mungkin yang semalam dia katakan bahwa dia akan memberiku sesuatu. Kulihat dia masih mengenakan seragam sekolah. Memanglah kelas tingkat akhir tidak mengikuti lomba yel-yel karena sudah harus fokus belajar.

"Dek, ini buat kamu." Ujarnya sambil menyerahkan sebotol minuman padaku. How sweet!

Dengan agak malu-malu aku menerimanya setelah berbasa-basi menolaknya dengan halus karena merepotkan dia. Yah... hanya bualan belaka. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih untuk perhatian kecilnya.

Woops! Aku tersenyum2 melihat minuman yang diberikannya. Teh botol dengan merk yang sama seperti panggilanku. Sedikit membuatku berbunga-bunga. Akan kuingat momen berharga ini. Berlebihan memang, tapi tak ada salahnya.

Ibarat kucing diberi ikan, sumringah, senang, dan salah tingkah. Aku berpikir, andai sebelum tampil kubertemu dengannya dapat dipastikan aku lebih energik di panggung.

Ah, ada apa sih denganku? Tak biasanya kululuh dengan perhatian kecil seorang lelaki. Semenjak itulah kumulai memperhatikannya.

Dare To Be

0 comments
When a new day begins, dare to smile gratefully.

When there is darkness, dare to be the first to shine a light.

When there is injustice, dare to be the first to condemn it.

When something seems difficult, dare to do it anyway.

When life seems to beat you down, dare to fight back.

When there seems to be no hope, dare to find some.

When you’re feeling tired, dare to keep going.

When times are tough, dare to be tougher.

When love hurts you, dare to love again.

When someone is hurting, dare to help them heal.

When another is lost, dare to help them find the way.

When a friend falls, dare to be the first to extend a hand.

When you cross paths with another, dare to make them smile.

When you feel great, dare to help someone else feel great too.

When the day has ended, dare to feel as you’ve done your best.

Dare to be the best you can –

At all times, Dare to be!” 
― Steve MaraboliLife, the Truth, and Being Free

Kacamata Ungu

0 comments
Kacamata ungu yang kukenakan nampaknya sangat cocok bertengger di hidungku yang kecil ini. Parasku tidak begitu menarik. Apa sih istimewanya gadis pendek dengan pipi tembam yang hampir melahap habis hidung mungilnya? Tidak ada. Sebagai siswa baru salah satu SMA terfavorit di kotaku yang tentram ini, aku cenderung tipikal cewek cupu ehm... apa sih istilahnya? Nerd? Freak? 

Rambut potongan papak, poni miring, dan berkecamata, sungguh jauh dari kata "modis". Aku cukup bersyukur dengan selesainya penyiksaan yang telah kujalani hampir genap 3 tahun. Dimana kawat besi menempel didalam rongga mulutku. Menarik kuat gigiku yang rasanya rahangku pun ikut tertarik. Ugh... Aku benci bila harus mengingat-ingat bagaimana rasanya sering sariawan akibat itu. 

Oh ya, kacamata ungu yang kukenakan sekarang belum lama kumiliki. Hanya berselang seminggu setelah masa orientasi siswa yang kulalui. Aku tampak lebih percaya diri dengan kacamata baruku ini. Menurutku, kacamata ini membuat wajahku lebih menarik. 

"Ungu... ungu... Berikan aku pesonamu.. Bawakan aku keajaibanmu..."  

Kata-kata itu kuucapkan didepan cermin sebelum kuberangkat sekolah. Sssstttt..... Ini rahasiaku agar lebih percaya diri dengan menyugesti diri sendiri. Aku percaya dengan begitu keajaiban akan terjadi padaku dengan berbagai cara.

Btw, karenanya aku jadi makin menyukai warna ungu. Aku memandang warna ungu sebagai warna yang anggun, bermartabat, dan elok. Tapi, ungu tetap tidak bisa mengalahkan warna merah sebagai warna favoritku. Merah melambangkan gairah dan semangat yang selalu berkorbar. 

Aku ingin menceritakan tentang keajaiban yang dibawa kacamata ungu ini padaku. Kacamata ungu ini mendekatkanku pada sosok lelaki yang berbeda kepribadian denganku. Walaupun awalnya kucoba untuk mengabaikannya karena ada desas-desus rumor tidak enak tentang dirinya, aku pun kalah. Tak bisa kupungkiri bahwa dirinya memang terlalu menarik untuk diabaikan. Entah itu karena bakatnya sebagai sosok cassanova atau diriku yang terlalu lemah atas manisnya ucapan yang sering terlontar dari bibirnya. 

Kacamata ungu ini yang memberikanku beberapa kisah menarik dalam kehidupan asmaraku. Kisah-kisah manis berkedok kopi hitam yang pahit. Dari sini awal ceritaku.. Dimulai dari kacamata unguku...




 

Casual Affair Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos